Press ESC to close

Reportase Kaleidoskop Transformasi Kesehatan Digital: Antara Angan & Kenyataan

PKMK-Yogyakarta. PKMK FK-KMK UGM telah menyelenggarakan Webinar Kaleidoskop 2025: Transformasi Kesehatan Digital: Antara Angan dan Kenyataan pada Jumat (9/1/2026), yang dimoderatori oleh Annisa Ristya Rahmanti, Ph.D., dengan narasumber dr. Ahmad Hidayat, M.Sc., MBA dan drg. Rudy Kurniawan, M.Kes., serta pembahas Anis Fuad, DEA, Dr. Enny Rachmani, SKM, M.Kom., Ph.D., dan Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D. Webinar ini menjadi ruang refleksi atas capaian, tantangan, dan arah transformasi kesehatan digital Indonesia sepanjang 2025.  Dalam pengantarnya, Annisa menyoroti pesatnya perkembangan transformasi digital yang masih dihadapkan pada tantangan teknis, tata kelola, dan kesiapan SDM, serta memperkenalkan kerangka OpenHIE yang memandang ekosistem digital kesehatan sebagai sistem berlapis dari fondasi tata kelola dan SDM, interoperabilitas teknis, hingga pemanfaatan data. Pada hampir seluruh lapisan tersebut, PKMK berperan aktif melalui penelitian, pendidikan dan pelatihan, pengembangan produk, serta pengabdian masyarakat, menegaskan transformasi kesehatan digital sebagai proses kolaboratif dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Ahmad menegaskan bahwa transformasi digital kesehatan Indonesia sejak 2022 telah membangun fondasi yang kuat melalui pengembangan SATUSEHAT, penerapan standar interoperabilitas, serta dukungan regulasi yang relatif maju. Ahmad menilai bahwa transformasi tersebut telah memasuki fase implementasi nyata di lapangan. Namun, pada tahun 2025, masih terdapat tantangan signifikan, terutama terkait dinamika kebijakan, restrukturisasi organisasi, dan keterbatasan sumber daya manusia teknis. Di sisi lain, peluang terbuka melalui RPJMN 2025–2029 yang menempatkan teknologi kesehatan sebagai pilar utama pembangunan kesehatan nasional. Oleh karena itu, transformasi ke depan perlu bergeser dari fokus pada konektivitas menuju penguatan kapabilitas pemanfaatan data, kecerdasan buatan, dan penciptaan nilai secara kolaboratif dan berkelanjutan. Selanjutnya, Rudy memaparkan arah pengembangan informasi kesehatan nasional serta refleksi atas peta jalan transformasi digital kesehatan Indonesia. Rudy menyoroti berbagai tantangan struktural, mulai dari kondisi geografis kepulauan, besarnya jumlah penduduk, kompleksitas administrasi, hingga keterbatasan SDM digital. Di sisi lain, Rudy menegaskan capaian melalui pengembangan SATUSEHAT sebagai infrastruktur kritis nasional yang mendukung integrasi data kesehatan secara longitudinal, demokratisasi akses data melalui SATUSEHAT Mobile, serta penguatan ekosistem inovasi. Transformasi digital kesehatan selanjutnya akan dilanjutkan melalui Digital Health Transformation Strategy 2025–2029, dengan penekanan pada kedaulatan data, teknologi, dan talenta, serta pemanfaatan big data dan AI secara etis untuk mendukung kebijakan dan layanan kesehatan.

Sesi pembahasan menghadirkan refleksi kritis dari kalangan akademisi terhadap implementasi transformasi digital kesehatan di Indonesia. Anis menekankan pentingnya kejelasan arah kebijakan sebagai landasan kontribusi akademisi dengan menegaskan bahwa optimisme akademik harus dibangun di atas kebijakan yang konkret dan dapat dirujuk, bukan sekadar wacana atau euforia transformasi digital. Anis juga menyoroti perlunya evaluasi jujur atas dampak sistem digital terhadap praktik layanan, khususnya risiko peningkatan beban kerja akibat double entry yang berpotensi menurunkan kualitas data dan memicu kelelahan tenaga kesehatan, sehingga pergeseran dari connectivity ke capability harus disertai perubahan cara kerja, budaya organisasi, dan relasi pusat – daerah yang lebih substantif. Sementara itu, Enny menegaskan perlindungan data pribadi dan keamanan informasi sebagai elemen krusial transformasi digital kesehatan, dengan penekanan pada tata kelola data yang kuat, pengelolaan siklus hidup data, pengamanan teknis, regulasi turunan UU PDP, serta peningkatan literasi keamanan data di seluruh ekosistem kesehatan. Pembahasan diakhiri oleh Lutfan dengan menekankan peran kunci klinisi dan pentingnya fungsi penghubung seperti Chief Medical Information Officer dalam menjembatani kebutuhan klinis dan teknologi, serta menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital lebih ditentukan oleh kesiapan SDM, perubahan mindset, dan pemanfaatan data yang bermakna daripada teknologi semata.

Dalam sesi diskusi,  disepakati bahwa keberhasilan transformasi digital kesehatan ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan implementasi di daerah, bukan hanya oleh kebijakan di tingkat pusat. Tantangan berupa kesenjangan kapasitas, fragmentasi sistem, beban kerja tenaga kesehatan, serta isu tata kelola dan perlindungan data membutuhkan pendekatan kolaboratif yang menghubungkan kebijakan dengan realitas lapangan. Dalam konteks ini, PKMK memiliki peran strategis sebagai mitra akademik yang mendorong riset implementatif, penguatan kapasitas SDM, penyusunan panduan praktis berbasis konteks daerah, serta advokasi tata kelola dan pemanfaatan data yang bermakna. Peran tersebut diharapkan dapat mempercepat pergeseran transformasi digital kesehatan dari fokus konektivitas menuju kapabilitas yang berdampak nyata dan berkelanjutan bagi sistem pelayanan kesehatan nasional. Reporter: Rio Aditya Pratama


Materi dan Video Rekaman Silahkan KLIK DISINI

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adffffpiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.hjhjhjhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh