Jumat, 06 Februari 2026
Kesehatan anak merupakan salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan kesehatan. Namun, penyakit infeksi, masalah gizi, serta keterlambatan deteksi tumbuh kembang masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian balita di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan pelayanan kesehatan anak yang terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan di tingkat pelayanan kesehatan primer.
Sejalan dengan arah kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penguatan pelayanan kesehatan anak di tingkat pelayanan primer dilaksanakan melalui berbagai pendekatan terintegrasi, diantaranya Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). PKAT berperan sebagai skrining komprehensif untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan, status gizi, serta status imunisasi, sekaligus melakukan deteksi dini faktor risiko kesehatan pada anak sehat maupun berisiko. Sementara itu, MTBS merupakan pendekatan standar dalam penatalaksanaan balita sakit melalui klasifikasi klinis sederhana, tatalaksana awal yang tepat, konseling keluarga, serta pengambilan keputusan rujukan. Dalam kerangka ILP, PKAT dan MTBS tidak dilaksanakan secara terpisah, melainkan menjadi satu rangkaian pelayanan kesehatan anak yang saling melengkapi dan berkesinambungan.
Perawat Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) memiliki peran strategis dalam pelaksanaan PKAT dan MTBS berbasis ILP karena berinteraksi langsung dan berkelanjutan dengan anak dan keluarga, mulai dari skrining dan deteksi dini, tatalaksana awal, edukasi dan konseling, pendampingan kader Posyandu, hingga koordinasi tindak lanjut pelayanan. Namun, implementasi ILP menghadapi tantangan berupa keterbatasan SDM keperawatan yang berdampak pada meningkatnya beban kerja akibat penambahan kegiatan skrining, pendampingan kader, serta pencatatan dan pelaporan terintegrasi tanpa dukungan tenaga yang memadai. Tantangan ini diperberat oleh keterbatasan tenaga kesehatan secara umum terutama di daerah terpencil dan akses geografis sulit, variasi penambahan kompetensi kader Posyandu, adaptasi terhadap alur pelayanan baru, keterbatasan sarana prasarana, sistem pencatatan dan pelaporan yang belum optimal, keterbatasan anggaran untuk operasional dan pelatihan berkelanjutan, serta masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap alur pelayanan ILP.
Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu kegiatan penguatan peran dan kapasitas perawat yang terencana dan berbasis kebijakan untuk mendukung integrasi pelaksanaan PKAT dan MTBS dalam kerangka ILP di Puskesmas dan Pustu, melalui peningkatan kompetensi, pemahaman alur pelayanan, serta dukungan implementasi di lapangan. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas, efektivitas, dan keberlanjutan pelayanan kesehatan anak sesuai arah kebijakan nasional pelayanan kesehatan primer.
Tujuan Umum
Meningkatkan peran dan kapasitas perawat dalam pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) berbasis Integrasi Layanan Primer (ILP) guna memperkuat kualitas dan kesinambungan pelayanan kesehatan anak di tingkat pelayanan kesehatan primer.
Tujuan Khusus
|
Waktu (WIB) |
Durasi |
Topik |
PIC/narasumber |
|
13.00-13.05 |
5’ |
Pembukaan oleh MC |
|
|
13.05-13.10 |
5’ |
Pengantar oleh moderator |
|
|
13.10-13.30 |
20’ |
Materi 1: Penguatan Peran Perawat dalam Integrasi PKAT dan MTBS Berbasis ILP |
dr. Gregorius Anung Trihadi, M.PH |
|
13.30-13.50 |
20’ |
Materi 2: Integrasi PKAT dan MTBS dalam Praktik Keperawatan Anak Berbasis ILP |
Dr. Fitri Haryanti, S.Kp., M.Kes. (Dosen Keperawatan Anak FK-KMK UGM) |
|
13.50-14.20 |
30’ |
Pembahasan |
Pembahas |
|
14.20-14.55 |
35’ |
Sesi Diskusi |
Moderator |
|
14.55-15.00 |
5’ |
Penutup |
MC |
Biaya Kepesertaan
NARAHUBUNG
Ubaid / 083872047127
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adffffpiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.hjhjhjhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
