Seri 1 Ketahanan Keluarga
Webinar Pre-Marriage Talk : Yakin Sudah Siap Menikah?
Yuk Kupas Komitmen, Kesiapan, dan Fondasi Keluarga Tangguh!
TUJUAN
Tujuan Umum
Memberikan pemahaman yang utuh mengenai pilar dan konsep ketahanan keluarga melalui edukasi berkelanjutan yang meliputi tantangan dan konsep ketahanan keluarga, strategi mempersiapkan pernikahan, serta konsep ketahanan keluarga sebagai dasar membangun pernikahan yang berkualitas.
Tujuan Khusus
- Meningkatkan pemahaman tentang konsep dan pilar ketahanan keluarga secara konseptual dan praktis.
- Membekali peserta (calon pasangan, keluarga muda, dan masyarakat umum) dengan pengetahuan dan keterampilan membangun keluarga yang tangguh, berkualitas, dan berdaya.
- Membekali peserta dalam mempersiapkan pernikahan, termasuk mengenali pasangan, memahami karakter, dan kesiapan kesehatan reproduksi.
- Mendorong kesiapan fisik, mental, sosial, dan ekonomi menjelang pernikahan.
SASARAN PESERTA
- Profesional dan Konselor Keluarga
- Psikolog umum
- Psikolog Klinis
- Pasangan muda yang merencanakan pernikahan
- Mahasiswa
- Pelajar
- Umum
WAKTU & PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Rabu, 19 Agustus 2026
Waktu : 13.00-15.00 WIB
Tempat : Daring Via Zoom Meeting
JADWAL KEGIATAN
Pukul | Durasi | Agenda | Narasumber |
13.00-13.05 WIB | 5’ | Pembukaan Moderator | Moderator |
13.05-13.15 WIB | 10’ | Pengantar dan Sambutan | dr. Arida Oetami, M.Kes (PKMK FK-KMK UGM) |
13.15-13.45 WIB | 30’ | Materi 1: Dinamika Pernikahan di Indonesia dan Urgensi Kesiapan Pra-Nikah: Tantangan, Komitmen, dan Membangun Fondasi Keluarga | Narasumber: Gusti Kanjeng Ratu Bendara (Kesultanan Yogyakarta) |
13.45-14.15 WIB | 30’ | Materi 2: | Narasumber: |
14.15-14.45 WIB | 30’ | Diskusi dan Tanya Jawab | Moderator |
14.45-14.55 WIB | 10’ | Kesimpulan, Informasi, dan Penutup oleh Moderator | Moderator |
REPORTASE
Seri 1 Ketahanan Keluarga
Webinar Pre-Marriage Talk : Yakin Sudah Siap Menikah? Yuk Kupas Komitmen, Kesiapan, dan Pondasi Keluarga Tangguh!

PKMK, Yogyakarta. Menyoroti berbagai dinamika konflik pernikahan dan keluarga di Indonesia, PKMK menyelenggarakan Seri Webinar Seri 1 Ketahanan Keluarga bertajuk “Pre-Marriage Talk: Yakin Sudah Siap Menikah? Yuk Kupas Komitmen, Kesiapan, dan Pondasi Keluarga Tangguh!” yang diselenggarakan pada hari Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yaitu Gusti Kanjeng Ratu Bendoro dari Kesultanan Yogyakarta dan apt. Cahyadi Takariawan, seorang konselor ketahanan keluarga. Webinar ini digelar untuk membekali calon pasangan dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai kesiapan, komitmen, dan fondasi dalam membangun keluarga yang tangguh, di tengah dinamika sosial masa kini yang membuat pernikahan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Dalam paparannya, Gusti Kanjeng Ratu Bendoro menyoroti dinamika pernikahan di Indonesia, mulai dari pergeseran usia menikah pertama yang semakin meningkat di perkotaan hingga angka perceraian yang masih tergolong tinggi, dengan faktor ekonomi, komunikasi, dan KDRT sebagai penyebab utama. Bendoro menekankan empat aspek kesiapan pra-nikah yang perlu dimiliki setiap individu, yaitu kesiapan mental, finansial, fisik/medis, dan sosial, serta mengingatkan tantangan pernikahan masa kini seperti tekanan ekonomi, pengaruh media sosial, dan intervensi keluarga besar. Pada intinya, komitmen digambarkan sebagai keputusan harian untuk tetap bertahan mencintai dan dicintai, karena keluarga yang kuat tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan dibangun di atas kesiapan dan keputusan untuk memilih pasangan setiap hari.

Sementara itu, apt. Cahyadi Takariawan mengupas konsep ketahanan keluarga secara lebih komprehensif, diawali dengan data perselisihan dan pertengkaran sebagai penyebab dominan perceraian di Indonesia sepanjang 2020–2024, serta temuan penelitian bahwa kepuasan keluarga turut mempengaruhi kepuasan dan produktivitas kerja. Mengacu pada penelitian John DeFrain (2019) terhadap lebih dari 3.000 keluarga di 40 negara, Cahyadi memaparkan tujuh ciri keluarga kuat (International Family Strength Model), yaitu apresiasi dan afeksi, komunikasi positif, komitmen pada keluarga, kebersamaan berkualitas, kesejahteraan spiritual, kemampuan mengelola stres dan krisis, serta keterhubungan sosial. Beliau juga menekankan pentingnya self-awareness sebelum menikah, mengingat penelitian Tasha Eurich menunjukkan hanya 15% orang yang benar-benar memiliki kesadaran diri meski 95% merasa demikian, serta pentingnya memahami perbedaan karakter dan cara berpikir antara laki-laki dan perempuan agar pasangan dapat saling memahami, bukan saling menuntut.
Pada sesi diskusi, Bendoro kembali menekankan pentingnya memiliki value yang setara antara laki-laki dan perempuan, sehingga ikatan pernikahan bukan menjadi ajang kompetitif, melainkan suatu ikatan yang sehat untuk berdiskusi seumur hidup. Cahyadi menanggapi terkait fenomena penurunan angka pernikahan di Indonesia perlu dipandang dari dua sudut pandang, akan menjadi positif apabila bersamaan dengan peningkatan value dari banyak individu di masyarakat, namun dapat menjadi negatif apabila terjadi peningkatan angka seks bebas atau perilaku menyimpang lainnya. Sehingga diperlukan sikap yang bijak dalam menyikapi berbagai dinamika yang terjadi.
Sebagai penutup, webinar ini menegaskan bahwa kesiapan menikah bukan sekadar soal kesiapan usia, melainkan kematangan mental, finansial, fisik, dan sosial yang harus dipersiapkan secara sadar. Fondasi keluarga tangguh dibangun melalui komitmen yang diperbarui setiap hari, kemampuan mengenali diri sendiri secara jujur, serta kesediaan memahami perbedaan karakter pasangan. Dengan bekal pemahaman ini, peserta diharapkan lebih siap menghadapi dinamika pernikahan dan mampu membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan berkualitas.
Reporter: Firda Alya (PKMK FK-KMK UGM)