Kamis, 26 Februari 2026
Fenomena Super Flu, yaitu infeksi yang disebabkan oleh varian influenza A tipe H3N2 subclade K, telah menjadi salah satu fokus kesehatan global sejak akhir 2025. Varian ini pertama kali teridentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025, dan kemudian dilaporkan sudah tersebar di lebih dari 80 negara, termasuk Indonesia.
Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), hingga akhir Desember 2025 terdapat kurang lebih 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang terkonfirmasi melalui sistem surveilans dan whole genome sequencing (WGS), tersebar di delapan provinsi dengan konsentrasi tertinggi di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus ditemukan pada perempuan dan anak-anak (usia 1–10 tahun), meskipun varian ini juga telah terdeteksi pada kelompok usia dewasa muda dan lansia. Super Flu seringkali digambarkan sebagai influenza yang lebih agresif dibanding flu musiman biasa, dengan kemampuan penularan yang cepat dan gejala klinis yang lebih dominan seperti demam tinggi, nyeri otot berat, batuk parah, dan kelelahan ekstrem. Meskipun hingga kini belum terbukti secara signifikan terkait tingkat keparahan atau angka kematian dibanding influenza biasa, fenomena peningkatan kasus secara serentak di berbagai negara tetap menjadi perhatian lembaga kesehatan nasional dan internasional.
Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa situasi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia masih dalam kondisi terkendali, sekaligus menegaskan perlunya terus memperkuat surveilans, pemantauan laboratorium, dan kesiapsiagaan layanan kesehatan. Bahkan Komisi IX DPR RI mengimbau agar Kemenkes melakukan evaluasi terhadap efektivitas vaksin influenza saat ini terhadap subclade K serta menyiapkan langkah antisipatif yang terukur.
Menghadapi situasi ini, sangat penting bagi masyarakat, tenaga kesehatan, akademisi, dan pembuat kebijakan untuk memiliki pemahaman komprehensif mengenai perbedaan antara Super Flu dan flu biasa, pola keterpaparan, risiko komplikasi, sampai best practice dalam pencegahan, respons, dan komunikasi risiko. Seiring pemulihan Indonesia dari pandemi COVID-19 yang belum lama berakhir, webinar ini diharapkan menjadi ruang dialog ilmiah, edukatif, dan strategis untuk membangun kesiapsiagaan bersama terhadap isu penyakit infeksi pernapasan yang kembali mengemuka.
Tujuan umum
Meningkatkan pemahaman, kesiapsiagaan, serta respons lintas pemangku kepentingan terhadap fenomena Super Flu di Indonesia berdasarkan data epidemiologis mutakhir dan prinsip kesehatan masyarakat.
Tujuan khusus
|
Waktu |
Durasi (menit) |
Topik/Materi |
PIC |
|
13.00–13.05 |
5’ |
Pembukaan |
Moderator |
|
13.05–13.45 |
40’ |
Materi Pengantar:
|
Narasumber: dr. Taufik Indrawan, Sp.PD (Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Dr. Sardjito) |
|
13.45–14.05 |
20’ |
Materi 2: Komunikasi Risiko dan Edukasi Publik dalam Ancaman Penyakit Infeksi Baru Materi |
Narasumber: Akhmad Theo Fani (Promosi Kesehatan RSUD Dr. Soetomo) |
|
14.05–14.45 |
40’ |
Diskusi |
Moderator |
|
14.45–14.55 |
10; |
Penyampaian Kesimpulan |
Moderator |
|
14.55–15.00 |
5’ |
Penutup |
Moderator |
NARAHUBUNG
Firda / 0895620105789
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adffffpiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.hjhjhjhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh