Press ESC to close

Reportase Webinar Keperawatan Seri 1 #Penguatan Peran Perawat dalam Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) & Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Berbasis Integrasi Layanan Primer (ILP)

PKMK-Yogyakarta. PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar Keperawatan Seri 1 dengan tema “Penguatan Peran Perawat dalam Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) berbasis Integrasi Layanan Primer (ILP)” pada Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk membahas penguatan layanan kesehatan anak di tingkat layanan primer, khususnya dalam mendorong integrasi PKAT dan MTBS di era ILP. Webinar ini juga menegaskan pentingnya peran dan kapasitas perawat sebagai garda terdepan dalam implementasi pelayanan kesehatan anak yang komprehensif dan berkesinambungan.

Pemaparan pertama disampaikan oleh dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., Kepala Dinas Kesehatan DIY, menekankan pentingnya penguatan sistem layanan primer untuk memastikan layanan kesehatan menjangkau masyarakat secara optimal. Pada 2025, 100% Puskesmas di DIY telah melaksanakan PKAT. Hampir seluruh Puskesmas juga telah menjalankan MTBS, namun belum seluruh balita terlayani dengan tata laksana MTBS. Menurutnya, perawat berperan penting dalam integrasi layanan primer. Kompetensi perawat perlu disiapkan melalui pendidikan keperawatan agar selaras dengan kebutuhan program di layanan primer, kompetensi tidak hanya mencakup aspek keilmuan klinis, tetapi juga kemampuan komunikasi serta kerja sama dalam tim.

Selanjutnya, Dr. Fitri Haryanti, S.Kp., M.Kes., Dosen Keperawatan Anak FK-KMK UGM, menegaskan bahwa perawat anak memiliki peran strategis sebagai kontak pertama pelayanan anak di Puskesmas dan komunitas dalam penerapan PKAT dan MTBS, baik dalam aspek promotif, preventif, maupun kuratif. Perawat berperan dalam skrining kesehatan anak, pemantauan tumbuh kembang, status gizi, imunisasi, edukasi keluarga, hingga penerapan standar MTBS dalam penanganan balita sakit. Integrasi PKAT dan MTBS menjamin deteksi dini dan keselamatan anak. Dalam konteks ILP, perawat anak sebagai aktor kunci penggerak layanan primer dalam integrasi PKAT dan MTBS untuk meningkatkan mutu dan kesinambungan layanan kesehatan anak.

Pembahas dari perspektif kebijakan kesehatan, dr. Wira Hartiti, M.Epid., selaku Ketua Tim Kerja Kesehatan Balita dan Anak Prasekolah Kemenkes RI, menegaskan bahwa PKAT dan MTBS merupakan bagian penting dari penguatan layanan anak yang selaras dengan transformasi sistem kesehatan. Wira menyoroti pentingnya memperkuat layanan di FKTP untuk mencegah kematian balita dan kejadian stunting melalui intervensi seperti status kesehatan (imunisasi), pemantauan gizi adekuat, pengasuhan yang responsif, stimulasi, keselamatan dan keamanan. Dalam hal ini, peran perawat sangat penting dalam pelaksanaan PKAT dan MTBS, terutama untuk menjamin kualitas skrining, deteksi dini, serta tatalaksana masalah kesehatan dan gizi pada balita. Kurikulum pendidikan keperawatan bisa diselaraskan dengan kebutuhan program di layanan primer, termasuk materi kompetensi perawat dalam PKAT dan MTBS.

Menanggapi paparan sebelumnya, Sri Hartini, S.Kep., Ners., M.Kes., Ph.D., selaku Ketua Ikatan Perawat Anak Indonesia (IPANI) DIY, menekankan peran perawat sebagai tenaga kesehatan utama dalam PKAT dan MTBS, serta pentingnya penguatan kapasitas perawat dalam praktik keperawatan anak di layanan primer. Dalam layanan MTBS, perawat melakukan tata laksana balita sakit meliputi penilaian dan klasifikasi, tindakan dan pengobatan, dan tindak lanjut. Perawat anak dalam PKAT melakukan penilaian awal (status gizi, imunisasi, kekhawatiran ibu, lingkungan pengasuhan anak), stimulasi dini dan pemeriksaan tumbuh kembang, serta bimbingan kelompok dan edukasi orang tua/pengasuh. Dalam hal ini, peran perawat sebagai care provider, edukator, komunikator, dan koordinator.

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA, Guru Besar FK-KMK UGM, menyoroti akses dan mutu dalam layanan kesehatan anak di era ILP. Beliau menekankan perlunya case manager layanan kesehatan anak di Posyandu/Pustu yang dapat dilakukan oleh perawat komunitas untuk menindaklanjuti sistem pencatatan dan pelaporan sampai di tingkat komunitas. Dalam konteks ini, satu perawat satu desa masih patut diperjuangkan untuk memperoleh akses dan informasi tentang kondisi sosial dan perumahan di komunitas.

Perspektif lintas sektor diperkuat oleh Ibu Anggi Bambang, Sekretaris TP-PKK DIY, yang menekankan pentingnya peran kader sebagai ujung tombak penggerak dan motivator masyarakat, pendamping teknis tenaga kesehatan dan pencatatan data, serta penyuluhan dan edukasi orang tua di Posyandu. Dalam pelaksanaan PKAT dan MTBS, kader PKK mendampingi tenaga kesehatan dalam pemantauan tumbuh kembang, penyuluhan pola asuh, kunjungan rumah, dan peningkatan literasi keluarga. Beliau menegaskan bahwa PKAT dan MTBS berbasis ILP akan lebih efektif apabila penguatan peran perawat disertai penguatan literasi dan perilaku keluarga, mengingat keputusan terkait kesehatan anak ditentukan oleh orang tua dan keluarga.

Melalui sesi diskusi yang dimoderatori oleh Monita Destiwi, peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait model integrasi PKAT-MTBS dalam ILP, alur pelayanan anak, kesiapan SDM perawat, beban kerja di layanan primer, mutu dan konsistensi layanan, serta tantangan implementasi dan strategi kebijakan. Webinar ini menyimpulkan bahwa pentingnya penguatan peran perawat dalam PKAT dan MTBS merupakan langkah strategis untuk mendukung pelayanan kesehatan anak yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berkualitas di era Integrasi Layanan Primer (ILP). Reporter: Ghofur H (PKMK FK-KMK UGM)

Materi dan Rekaman kegiatan silahkan Klik DISINI

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adffffpiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.hjhjhjhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh